Archive for Maret, 2010

Selamat Ujian Nasional kedepankan kejujuran

Sumut dan 32 provinsi lainnya menyatakan siap melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang dimulai Senin (22/3) dan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Kita patut bersyukur karena penolakan atas UN semakin berkurang, apalagi setelah pemerintah menyatakan UN bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa.

Selain itu, bagi siswa yang gagal masih diberi kesempatan mengikuti ujian ulangan dalam beberapa hari kemudian sehingga masih tetap bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Siswa yang gagal terpaksa mengikuti ujian paket C sehingga banyak yang akhirnya tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke PTN.

Harapan kita UN tahun ini bisa berlangsung lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu tingkat kebocoran dan ‘’permainan’’ masih terjadi meskipun sudah jauh menurun maka tahun ini tingkat kebocoran dan ‘’permainan’’ semakin berkurang. Semuanya itu bisa terwujud jika memang panitia UN benar-benar siap. Jangan hanya siap di mulut belaka, apalagi karena ditanya Mendiknas. Yang penting kesiapan itu harus terlihat dalam implementasinya di lapangan.

Kita menilai sukses atau tidak suksesnya UN tahun ini tidak harus dilihat dari banyaknya siswa yang lulus. Walaupun kelulusan siswanya mencapai 99 persen namun diperoleh dengan cara tidak jujur antara siswa dengan siswa atau antara siswa dengan guru, atau melibatkan pengawas, apalagi ikut melibatkan oknum pejabat Diknas, maka hasil itu semu belaka. Tidak bermanfaat sama sekali bagi dunia pendidikan, bahkan merusak citra pendidikan kita.

Kalau tahun lalu selagi Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dijabat Prof DR Bambang Sudibyo mengatakan perlunya kejujuran dalam UN, karena ia melihat angka-angka fantastis yang dicapai anak didik saat itu mencurigakannya. Muncul dugaan kalau tingginya angka kelulusan dan nilai UN karena adanya permainan dalam pelaksanaan UN.

Memang masalah kejujuran itulah  yang penting  kita ajarkan dan terapkan dalam dunia pendidikan saat ini dan ke depan. Untuk apalah angka 9 dan 10 di UN kalau diperoleh dengan cara tidak jujur. Seharusnya, tingginya angka kelulusan dan munculnya nilai ujian fantastis 9 bahkan nyaris sempurna (10)  patut kita sambut dengan gembira. Namun kenyataannya tidak demikian. Kalau mantan Mendiknas merasa curiga, banyak pihak tidak jujur dalam pelaksanaan UN kiranya menjadi perhatian bagi Mendiknas yang baru M. Nuh. Mari kita ajarkan siswa bersikap jujur  karena hal itulah  yang terpenting dalam dunia pendidikan, di mana  akhlak dan budi pekerti adalah segala-galanya. Kejujuran ini sangatlah penting nilainya dibanding hasil UN tiga hari.

Mengenai tingginya  tingkat kelulusan UN tahun lalu di  berbagai daerah, termasuk Medan/Sumut  bisa terjadi karena semua pihak yang terkait memang bersiap dan khususnya siswa mempersiapkan dirinya dengan serius, belajar di sekolah, les tambahan, bahkan ada yang mengadakan doa bersama. Wajar kalau hasilnya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Namun bisa juga karena faktor ketidakjujuran dari sementara murid, guru, sekolah sampai pejabat Diknasnya terlibat melakukan rekayasa. Takut timbul  masalah, takut dicopot dari jabatannya kalau jumlah yang lulus rendah, maka segala daya dan upaya dilakukan untuk membantu siswa sehingga hasilnya benar-benar luar biasa; membohongi dunia pendidikan.

Kalau murid pintar mendapat nilai sembilan bahkan sepuluh pun, hal itu wajar saja, tidak mengejutkan kita. Tapi kalau murid yang prestasinya biasa-biasa saja, malas belajar dapat nilai sembilan, tentu saja patut dicurigai. Siapa yang membantunya? Hal yang terakhir inilah yang menimbulkan kecurigaan masyarakat sehingga menuntut UN ditiadakan karena tidak banyak manfaatnya.

Munculnya wacana  UN bisa diintegrasikan dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) mestinya dapat diwujudkan, sehingga UN menjadi lebih bermakna dan bermanfaat serta bergengsi. Penolakan yang terjadi datang dari kalangan yang merasa proyeknya terancam sehingga dicarilah alasannya seperti ketakutan nantinya mahasiswa yang diterima lewat ranking UN  tidak berkualitas. Tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Alasan itu terlalau dicari-cari, karena dalam UN dapat dimasukkan poin-poin yang diinginkan, kalau memang mau membantu siswa.

Kita meminta Mendiknas yang baru lebih agresif dalam mengupayakan terobosan  baru yang positif sehingga untuk bisa mendapat tiket PTN para lulusan SMU dan sederajat cukup melihat nilai mata ujiannya tanpa perlu melalui tes  SNMPTN dan sejenisnya yang hanya menghamburkan uang belaka. Selamat UN.